Buku "Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia" merupakan satu dari keempat seri buku Tempo yang membahas empat cerita tentang
pendiri republik: Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sutan Sjahrir. Potongan-potongan
sejarah yang menyusun buku ini dihimpun dari berbagai sumber, ada yang dari
kolom surat kabar yang merekam jejak dan kiprah Sukarno, wawancara langsung
dengan narasumber yang merupakan saksi hidup Sukarno, buku-buku karya anak dan sahabat
Sukarno bahkan dari autobiografinya. Dari penuturan itu, banyak didapatkan
fakta-fakta yang jarang disorot media. Terutama prihal kepribadian dan sikap
Sukarno semasa hidupnya. Dalam buku ini disinggung pula silsilah pernikahan
resmi Sukarno dan drama kehidupan asrama Sang Proklamator.
Bagian menarik dari buku ini adalah sikap yang diambil Bung Karno tatkala
beliau beradu pendapat dengan Bung Hatta. Bung Hatta berpendapat bahwa negeri
ini membutuhkan pemuda-pemuda yang berjiwa layaknya Sukarno. Sedangkan Bung
Karno justru berpendapat bahwa negeri ini hanya butuh satu Sukarno yang menjadi
kepala dari para pemuda. Hal ini menunjukkan bahwa Sukarno adalah sosok yang
mengidamkan posisi seorang pemimpin dimana ia dapat memberikan
pandangan-pandangannya mengenai Indonesia yang demokratis. Namun nyatanya
sejarah mencatat bahwa Sukarno mencederai demokrasi itu sendiri.
Sejarah mencatat bahwa Sukarno membubarkan Badan Konstituante yang diberi mandat menyusun
konstitusi yang lebih komprehensif dibandingkan dengan UUD 1945 dan justru
memberlakukan UUD 1945 kembali sebagai konstitusi yang merupakan sumber hukum tertinggi.
Padahal sebelumnya Sukarno sempat menyatakan bahwa UUD 1945 disusun dengan
"kilat" dan "darurat", sehingga harus diganti dengan
konstitusi yang disusun secara tenang dan seksama.
Selain menyinggung kehidupan Sukarno, buku ini juga mengupas banyak hal. Terutama jatuh bangunnya anak-anak sukarno hasil dari pernikahan beliau dengan Fatmawati, wabil khusus Guntur dan Megawati. Gundur yang merupakan anak pertama dari perkawinan Sukarno dan Fatmawati diceritakan tidak jadi meneruskan jejaknya di dunia politik karena melihat sang ayah terpuruk karena politik. Namun hal yang tak terduga justru muncul dari Megawati yang sama sekali tak pernah diperhitungkan untuk masuk di dunia politik, malah menjadi kader dari PDI. Terlebih lagi menjadi ketua umum partai tersebut hingga sekarang.
Buku ini sebagian besar berisi data-data sejarah yang telah dikonfirmasi keabsahannya. Baik itu sisi baik dari Sukarno maupun sisi buruknya. Namun buku ini membiarkan pembacanya untuk menilai seorang Sukarno dengan penilaiannya masing-masing. Benar-benar buku yang menyingkap "sejarah" dan cocok untuk kalian yang suka banget belajar tentang sejarah pendiri negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar