Senin, 17 September 2018

Review Novel "The Kite Runner"

The Kite Runner adalah novel buah karya dari seorang Afgan, orang Afganistan, bernama Khaled Hosseini. Novel ini mendapatkan banyak penghargaan salah satunya karena novel The Kite Runner merupakan novel pertama dari seorang Afgan yang berbahasa Inggris. Novel ini menceritakan tentang kebudayaan dan suasana Afganistan di masa lalu. Juga tentang hubungan antara seorang ayah dengan anak lelakinya.


Awal cerita The Kite Runner berpusar pada latar belakang dua orang piatu, yaitu Amir dan Hassan. Amir adalah anak dari Baba, seorang pebisnis besar pada waktu itu dan merupakan anak dari seorang hakim (almarhum) yang sangat dihormati. Amir tak pernah sekalipun melihat wajah ibunya secara langsung karena ibunya meninggal tepat pada saat melahirkannya. Hobi Amir adalah membaca buku, terutama buku kumpulan puisi dan novel. Keahlian Amir dalam berbalas puisi karya penyair-penyair mahsyur selalu menghantarkannya menjadi juara kelas.

Sementara Hassan adalah anak dari Ali, teman kecil Baba. Ali dulunya seorang anak dari korban tabrak mobil yang telah menewaskan kedua orang tuanya kemudian dia dirawat oleh kakek Amir (almarhum) yang merupakan hakim dari kasus tersebut. Nasib hubungan antara Hassan dan ibunya tak jauh beda dengan Amir dan ibunya, bahkan jauh lebih buruk menurut pandangan kebudayaan Afganistan. Ibu Hassan kabur bersama rombongan penari hampir seminggu setelah melahirkan Hassan. Keseharian Hassan adalah membantu ayahnya melakukan pekerjaan rumah dan menagih Amir membacakan cerita dari buku-buku koleksi ibu Amir karena Hassan seorang yang buta huruf.

Novel ini juga sedikit menyinggung kedudukan sunni dan syi'ah dalam kebudayaan Afganistan. Amir dan Baba adalah pemeluk islam sunni sedangkan Hassan dan Ali adalah pemeluk islam syi'ah. SElain itu buku ini juga menerangkan perihal Baba terhadap minuman beralkohol dan "mencuri".

Konflik bermula ketika Amir yang kala itu menyadari bahwa ayahnya tak menganggap dirinya karena ia lebih menyenangi buku-buku dibandingkan olahraga kesukaan ayahnya, sepak bola, dibuat terkejut ketika Baba ternyata mengamatinya dari jauh. Amir mengetahuinya karena ia menguping percakapan via telepon antara Baba dan Rahim Khan, rekan kerja Baba. Dalam percakapan itu, Baba menganggap bahwa Amir tak punya rasa bela diri ketita mendapatkan bullying. Namun Rahim Khan berpendapat bahwa Amir tak punya nafsu kejam karena Amir bukan seorang yang kasar. Bahkan Baba sendiri dalam percakapan itu menyatakan bahwa dia tidak akan mengakui Amir sebagai anaknya kalau ia tak melihat secar langsung proses persalinan istrinya.



Secara keseluruhan, novel ini bagus dan menarik. Diksi yang digunakan penulis sangat presisi. Alus ceritanya pun betul-betul menggambarkan hungungan antara seorang ayah dan anak lelakinya. Buat yang penasaran tentang kisah lengkap Amir dan Hassan, silahkan baca bukunya.

2 komentar: